Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”
Website: http://www.pesantrenvirtual.com

Sebuah kebangkitan mutlak memerlukan kesiapan sekaligus permulaan yang cukup
mengagetkan. Jika kita analogikan dengan sebuah kelahiran seorang anak manusia, tentu
kelahiran tersebut tidak datang begitu saja, tapi selain memerlukan sebuah proses
minimal sembilan bulan untuk mencapai wujud kelahiran yang sempurna, ia juga hampir
menyisakan rasa nyeri bagi rahim yang mengandungnya. Demikianlah, analogi sebuah
kebangkitan, yang tidak lain ia adalah sebuah bentuk dari kelahiran baru.

Kebangkitan bukan suatu hal yang gratis, tapi ia harus diperjuangkan, dan membutuhkan
prasyarat yang mutlak diwujudkan. Jika analogi umat Islam ibarat satu raga, maka
sesungguhnya apa yang diderita oleh muslim di belahan dunia yang lain, hakekatnya juga
didera oleh sebagian muslim lainnya. Kita bisa lihat sekarang, hampir ada kesepakatan,
problem umat saat ini adalah tiga hal, yaitu, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.
Kalau kita bertanya, kenapa hampir tidak ada dunia muslim dewasa ini yang tidak
terjangkit tiga penyakit tersebut. Barangkali jawabannya, cukup jelas, bahwa
sesungguhnya raga kita sekalipun terpisah-pisah hakekatnya adalah satu. Jika yang satu
terkena penyakit, maka yang lain akan ikut terjangkit, contohnya, jika yang satu
menderita ektresme, radikalisme, fundamentalisme, maka yang lain akan ikut terserang,
atau jika yang lain terkena penyakit liberalisme, sekularisme, pluralisme, maka yang
satu pun akan ikut terkena. Maka munculnya kesadaran untuk melakukan perubahan sebagai
era kebangkitan baru umat, hakekatnya adalah mengenali lebih dulu hipotesa jenis-jenis
penyakit tersebut, barulah setelah itu harus ada terapi mengobatinya, lalu
mempertahankannya untuk selalu konstan

Ada banyak faktor dalam mengukur suatu gejala kebangkitan, paling tidak terdapat empat
hal yang patut kita renungkan. Pertama, adanya kondisi yang tidak mungkin lagi
dipertahankan (satus-quo), kedua, munculnya kesadaran merubah kondisi tersebut menjadi
lebih berperadaban, ketiga, kesiapan untuk mempertahankan kondisi yang berperadaban tadi
dengan menyediakan berbagai infra-sruktur di segala bidang. Dan keempat, menjadikan
human resources sebagai tolak ukur dan harapan bagi munculnya sebuah kebangkitan yang
lebih inovatif di masa mendatang.

Ada baiknya kita tengok ke empat hal tadi secara satu persatu. Yang pertama: adanya
kondisi yang tidak mungkin dipertahankan, maksudnya; perubahan kondisi meniscayakan
sebuah sebab komunal atau yang dirasakan secara nyata untuk dibenahi, akibat kondisi
status-qou yang telah memperparah deretan keterpurukan suatu umat. Kondisi status-quo
inilah yang sesungguhnya kita sebut sebagai kondisi tidak mungkin kita pertahankan.
Ranah yang terjangkit bisa pada politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial.

Nah, Kalau kita membaca kembali secara seksama lembaran sejarah bangsa-bangsa terdahulu,
akan kita dapatkan betapa bangsa yang mulai menata atau tergugah untuk menata nasibnya,
harus terlebih dahulu mendasarkan pijakannya pada realitas faktual
kebangkrutan-kebangkrutan yang mereka alami saat itu. Ambil saja contohnya, kisah-kisah
perjuangan yang dilakukan oleh para al-Anbiya sebelum Nabi Muhammad Saw, selalu membawa
spirit kebangkitan dan perubahan, setelah mereka melihat berbagai kebangkrutan
multidimensional dalam masyarakat yang mereka hadapi.

Nabi Syuaib AS, mencoba melakukan perombakan total dalam bidang ekonomi, setelah
menyerap sekian bobroknya praktek ekonomi pada masyarakatnya ketika itu, ia secara
berani menyampaikan pesan Tuhan dengan menawarkan perbaikan-perbaikan di bidang ekonomi,
melalui transformasi konsep keadilan, kesamarataan dan kejujuran dalam berekonomi.
Demikian juga Nabi Musa yang rela berpisah dari kehidupan yang penuh kegermelapan dunia,
dengan menghirup kemegahan fasilitas tinggal di istana Fir’aun, dan lebih memilih hidup
sebagai pecundang namun terhormat dalam kaca mata Tuhan-Nya. Ia tidak takut melakukan
perombakan tradisi yang telah dianggap melawan arus ketika itu. Seperti arus perbudakan
yang merupakan sebuah fenomena sosial dan politik sekaligus sebagai budaya yang
berkembang saat itu, penindasan kalangan yang kuat terhadap yang lemah, berikut
penghargaan atas kemanusiaan manusia yang sama sekali tidak ada ketika itu, membuat Musa
yang hanya bermodalkan keyakinan akan janji Tuhan-Nya, berani menentang kondisi yang
diskriminatif tersebut. Demikian pula Isa AS, yang memilih hidup bersama
kalangan-kalangan yang tertindas oleh kediktatoran kerajaan Romawi yang kemudian bakal
menghukum dengan ancaman menyalibnya. Kebengisan dan kebencian yang dilakukan oleh
penguasa Romawi terhadap kalangan yang menentang kebijakannya telah mengarah kepada
pembunuhan karakter manusia yang seharusnya dihargai, tidak ada lagi kasih sayang dan
cinta kasih pada diri penguasa-penguasa tadi. Maka Isa al-Masih dengan modal firman
Tuhan-Nya berani menentang tirani tersebut, sehingga ia harus pasrah mati di tiang
gantungan menurut para pengikutnya. Termasuk perlawanan Muhammad Saw dan ketegasannya
menolak sistem sosial dan budaya yang tidak lagi menghargai persamaan gender, tindakan
diskriminatif antar ras dan suku begitu menonjol sehingga mengakibatkan ketidakadilan
dalam banyak tatanan sistem sosial yang berlaku kemudian. Matinya rasio dalam menuhankan
sesuatu yang tidak lebih mulia dari manusia kepada penuhanan secara total kepada Tauhid.
Adalah merupakan contoh perubahan yang didasari pada kondisi yang berlaku dan tidak
dapat lagi dipertahankan. Dengan mengetahui kondisi-kondisi tersebut, barulah akan ada
sasaran target perubahan yang terfokus dan tidak terfragmentasi.

Faktor kedua; munculnya kesadaran merubah kondisi tersebut menjadi lebih berperadaban.
Kondisi yang tidak bisa dipertahankan tadi, merupakan faktor pendorong perubahan
selanjutnya. Maka hakekatnya tanpa adanya kesadaran melakukan perubahan sama halnya
dengan meratapi nasib buruk tanpa mengambil langkah kongkrit untuk memperbaikinya. Pada
konteks inilah menjadi penting sebuah proses transformasi global. Artinya; reformasi ke
arah kondisi yang lebih baik, harus dimulai dari sekelompok agen pemikir yang memiliki
komitmen ketulusan berbuat demi maslahat umat, dan sekelompok itu terdidik melalui
sebuah pengalaman dari keberhasilan-keberhasilan kelompok manusia lainnya yang
betul-betul telah teruji secara sejarah.

Penting pula kita renungkan, akan adanya polemik boleh tidaknya umat Islam mengadopsi
nilai dan tatanan hidup dari bangsa lainnya dalam meraih sebuah kemajuan duniawi.
Sekelompok umat menentang hal ini, dengan alasan bahwa meniru pola hidup dan tata nilai
dari luar Islam, sama halnya dengan mengakui superioritas non-Islam atas Islam itu
sendiri. Sedangkan firman Allah selalu mengatakan, sesungguhnya hanya Islam lah agama
yang paling mulia, maka  barangsiapa yang mencari kemuliaan di luar jalan Islam
hakekatnya ia tengah menuju jurang kenistaan. Padahal jika kita teliti secara seksama
dari sumber-sumber otentik Islam, begitu banyak ajaran berikut anjuran kepada umat ini
untuk selalu menemukan inovasi yang baru bagi kemaslahatan umat dari manapun saja
asalnya. Galian parit saat perang khandaq, perintah mempelajari bahasa asing bagi
kepentingan diplomasi, pendirian kantor-kantor administratif, pembuatan kitab
undang-undang sipil dan perdagangan, dll, merupakan diantara contoh betapa umat Islam
dulu begitu terbuka menerima nilai-nilai positif “luar” selama ia mengandung maslahat
bagi umat sendiri. Justru kelemahan umat sekarang, dengan segenap perasaan
inferioritasnya atas bangsa “luar”, semakin memperdalam sikap ekslusifitasnya, sehingga
muncul kepasrahan untuk cukup dengan apa yang dimiliki oleh dunia Islam, lalu
membudayalah sikap anti pati atas dunia luar, dan keengganan mengambil nilai-nilai
positif darinya .Sungguh suatu pola interaktif yang sangat bertolak belakang dengan
tradisi yang kita miliki dulu

Faktor Ketiga, kesiapan seluruh elemen untuk mempertahankan kondisi yang berperadaban
tadi dengan menyediakan berbagai infra-sruktur di segala bidang. layaknya mempersiapkan
sebuah kelahiran baru, maka segala kebutuhan dan apa yang menjadi talian ikatan atasnya
harus telah dipersiapkan. Jika dalam konteks kebangkitan umat, maka orientasi perubahan
tidak boleh hanya terbatas pada destruction of evil power, tetapi juga construction of
good power..Inilah tugas dan kewajiban para pembaharu yang paling penting. Sekali lagi,
bahwa perubahan, reformasi, pembaharuan atau revolusi sekalipun, tidak berorientasi
jarak dekat, atau kebutuhan sesaat, sebab jika demikian, gerakan itu lambat laun akan
mati suri.

Adapun faktor Keempat: menjadikan human resources sebagai tolak ukur dan harapan bagi
munculnya sebuah kebangkitan yang lebih inovatif di masa mendatang. Pada tahap ini, yang
menjadi stressing adalah melakukan proyek human investment untuk mengawal langgengnya
perubahan tersebut. Dapat kita lihat sebuah negara yang konsen terhadap peningkatan
fasilitas human resources melalui agenda education for all umpamanya, merasa lebih siap
membuka diri terhadap setiap perkembangan dan inovasi-inovasi baru. Ketertinggalan
mayoritas umat kita, diantaranya dapat dilihat dari aspek ini. Betapa lemahnya fasilitas
intelectual enrichment yang kita miliki, sementara iklim sosial-politik tidak selalu
berpihak pada penghargaan atas proses daya cipta yang baru, bahkan seakan suatu
pembaruan dianggap sebagai sebuah tindakan anti kemapanan yang lacur dilabelkan sebagai
musuh stabilitas.

AKHIRNYA, langkah yang lebih tepat untuk memulai perubahan adalah dengan melihat
kebutuhan-kebutuhan local kebangsaan, menguasai permasalahan-permasalahnya, menemukan
aspek tantangan dan peluangnya, menggugah civilitas melakukan pencarian solusinya, dan
yang tidak kalah pentingnya adalah menjalin kerjasama global intra-bangsa melalui frame
work keumatan guna mengais kemaslahatan hidup sebagai pemakmur dunia. Paling tidak kita
masih punya keyakinan, kalau dunia ini tidak akan diserahkan kepada orang-orang rendah
iman dan lemah kualitas kerjanya. Yang menjadi persoalan, apakah modal keimanan kita
saat ini telah mampu menggugah etos kerja yang lebih baik, ataukah kerja kita selama ini
telah didasari oleh rasa iman kita pada hukum alam yang tidak pernah pilih kasih itu.

Pada akhirnya, sebuah kebangkitan umat sekalipun ia menyimpan rasa sakit pada awalnya,
ia mutlak mensinergiskan seluruh kecerdasan dan potensi umat, ialah kerjasama kolektif
yang selalu berdimensi sosial, yang selalu bertolak dari kepentingan “kita” bukan lagi
“Aku,” bergerak secara pasti menyentuh harapan komunal bukan lagi individual, dirasakan
hasilnya bukan hanya secara regional namun juga kawasan bahkan multilateral. Dengan
melandasi kebangkitan umat seperti ini, insya Allah kita semakin yakin bahwa Islam
benar-benar dapat menjadi (rahmatan lil ‘alamin); rahmat bagi semesta alam. Insya Allah,
kita pasti bisa.

Oleh Ustadz Muladi Mufhni, Lc

2 Tanggapan to “Rahasia Kebangkitan Umat”

  1. annas Says:

    Datangnya pertolongan Allah itu disyaratkan adanya pertolongan kita kepada agama-Nya. Bahkan sangat penting para aktivis yang ikhlas itu mengerahkan segala kesungguhan dan daya-upayanya, bahkan untuk melipatgandakan upayanya. Hal itu dibarengi dengan kesanggupan menanggung kesulitan, apapun bentuknya. Mereka harus menghiasi diri dengan kesabaran dan keteguhan dalam kebenaran. Mereka harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw. hingga tercapai yang mereka inginkan.


  2. saya sepakat bahwa muslim yang satu dengan yang lain bagaikan satu raga. jika ada muslim yang dibantai seperti saudara muslim kita dipalestina, iraq, afganistan, libanon, iran,yaman, yordania, kasmir, dan saat ini kondisi yang memprihatinkna muslim syuriah dibantai assad. tidak ada jalan lain umat harus bersatu untuk memilih seorang khalifah yang akan menjaga kehormatan muslim, menjaga keamanan dan keselamatan muslim. seperti yang telah rosulullah dalam membangun daulah madinah dan sahabat rasul dalam menerapkan khilafah.. oleh karena itu umat rindu akan sistem islam yang akan menerapkan islam secara kaffah.. maari kita perjuangkan sistem islam/ khilafah. ALLAHU AKBAR.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s